
Penjelasan
Hari Raya Galungan tersurat dalam Lontar Sunarigama, di mana hari
raya ini dirayakan setiap Budha Kliwon Dungulan sesuai penanggalan
kalender Bali. Kata Galungan dalam bahasa Jawa bersinonim dengan kata Dungulan
yang artinya menang atau unggul yang maknanya adalah mendapatkan
kemenangan yang benar dalam hidup ini merupakan sesuatu yang seharusnya kita
perjuangkan.
Pada
hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi kemenangan “Dharma” (kebenaran)
melawan “Adharma”(Kebatilan). Selain itu, Galungan pada hakikatnya untuk
mensinergikan kekuatan suci yang ada dalam diri setiap manusia untuk membangun
jiwa yang terang untuk menghapuskan kekuatan gelap (adharma) dalam diri.
Tuhan
sebagai pencipta dipuji dan di puja, termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga
diundang turun ke dunia untuk sementara kembali berada di tengah–tengah anggota
keluarga yang masih hidup. Sesajen menyambut kedatangan leluhur itu disajikan
pada di sebuah Merajan/sanggah keluarga. Penjor selamat datang dibuat dari
bambu melengkung, dihiasi janur dan bunga dan diisi sanggah di bagian bawahnya
serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-masing.
Sebelum
puncak perayaan Galungan ada beberapa rangkaian yang harus dilalui diantarnya;
1.
Sugian
2.
Penyajaan
3.
Penampahan.
Sugian
terdiri dari tiga kali, yaitu Budha Pon wuku Sungsang yang sering disebut
Sugian Tenten. Sugian itu penyucian awal,
penyajaan, dan penampahan.Tenten artinya sadar atau kesadaran. Galungan
hendaknya dirayakan dengan kesadaran rohani. Mengikuti tradisi hendaknya dengan
kesadaran, orang yang sadar adalah orang yang bisa membeda-bedakan mana yang
baik dan mana yang buruk, mana yang patut dan mana yang tidak patut. Wrehaspati
Wage wuku Sungsang adalah Sugian
Jawa, maknanya
perayaan ini untuk menyucikan bhuwana agung/alam semesta. Bhuana agung
menyucikan alam lingkungan hidup kita ini.
Sedangkan Sugian Bali pada
Sukra Kliwon Sungsang yang bermakna sebagai media untuk menyucikan diri
pribadi. Embang Sugian pada Redite Paing Wuku Dungulan yaitu untuk
mengheningkan kesadaran diri sampai suci (nirmala). Esoknya pada hari
penyajahan dinyatakan untuk memohon air suci sebagai permohonan restu pada
Tuhan. Pada Anggara Wage wuku Dungulan disebut penampahan yang maknanya dalam
hal ini adalah ”menyembelih” sifat-sifat kebinatangan yang bersembunyi dalam
diri kita, seperti sifat Rajah dan Tamah. Setelah dilakukan tahapan-tahapan
tersebut barulah mencapai puncak Hari Raya Galungan.
Perayaan
ini biasanya diisi dengan persembahyangan di pura desa dan Merajan/sanggahkawitan
masing-masing, dilakukan pada pagi hari
dan setelah itu semua orang keluar ke jalan dengan berpakaian baru yang indah,
mengunjungi sanak saudara dan handai tolan, sambil menikmati kebesaran hari
raya tersebut dan bersyukur atas segala berkah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
Tuhan yang Maha Esa.
https://docs.google.com/file/d/0B-jnTTOOW7sYLW1fcVhheGF0RmM/edit
https://docs.google.com/file/d/0B-jnTTOOW7sYLW1fcVhheGF0RmM/edit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar